Oleh: dewapur | Agustus 13, 2009

enak itu dibatasi

Ya, yang enak-enak itu perlu dibatasi. Bahkan ada Anjuran bahwa apapun itu sebaiknya jangan berlebihan, ya to? Yang halal bisa jadi haram, tentunya yang enak bisa jadi tidak enak, yang sehat bisa jadi menyakitkan.

Sekitar 2 minggu yang lalu untuk makan malam beli sate dan gulai kambing untuk keluarga. Kumakanlah seporsi sate kambing  dan gule, enak to? Paginya, karena masih tersisa, kuhangatkan dan kubuat sarapan, enak juga kan? Setelah itu persis seperti yang kualami bersama kawan2 satu kontrakan di Batam ketika 2 Romadhon yang lalu buka puasa dengan makan rame2 di warung sate dan gulai kambing yang terbilang enak. Waktu itu perut serasa mual dan mulas, ditambah badan sedikit gemetar, seorang kawan tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya dan harus pulang lebih awal, seorang kawan lagi jadi mencret2. Kejadian 2 minggu lalu itu lebih ringan gejalanya ketika pertama kali terjadi di Batam waktu itu.

Seminggu yang lalu, ternyata di rumah juga tersedia kembali sate dan gulai kambing. Wah tentunya enak kalo dimakan. Setelah memakannya timbul kembali gejala perutku masih tidak tawar. Wah ternyata, perutku tidak tawar kalo kebanyakan makan makanan dari kambing dalam satu waktu. Dan jeda seminggupun masih bisa mengganggu keseimbangan perut. Wah steady time untuk perutku terhadap kambing ini cukup lama juga. Ternyata yang enak-enak itu memang perlu dibatasi, ga cuma makanan tapi juga yang lainnya. Kukira ini sudah alami, biar manusia ini sadar akan kondisinya. Alam, secara seimbang, misalnya bagi tanaman jumlah radiasi matahari proporsional dengan jumlah air yang diterimanya tiap tahun.


Tanggapan

  1. kalo enak ga dibatasi,hmm seperti apa dunia ini semakin tak terkendali, mending di batasi

  2. iya. bahkan secara alami memang ada batasan itu…


Beri tanggapan

Your response:

Kategori