Akhir pekan yang panjang lalu pergiku ke Bromo mencoba memenuhi janji ke adikku. Untuk pergi kesana bisa naik bis dengan tujuan Banyuwangi atau Jember tapi lebih disarankan naik ke Jember karena kadang-kadang bis yang ke Banyuwangi tidak mampir ke terminal Probolinggo. Berangkat dari Surabaya menuju Probolinggo (terminal Bungurasih) sekitar jam 2 kurang naik bis ekonomi bertuliskan Restu dengan biaya 14 rb per orang. Di tengah perjalanan tentu saja ada beberapa orang yang naik ke bisa dan menjajakan dagangannya. Ada yang bergaya seperti penjual jamu, ada juga yang membagikan dulu supaya bisa dilihat oleh calon pembeli. Selain itu iringan dari musisi jalanan ada juga yang menghibur dan ada yang sekedarnya saja. Dan lagu yang sering dinyanyikan itu kukira berasal dari nada lagu lir-ilir. Sebagian dari liriknya kayaknya seperti ini.
saiki jaman abg
akeh wong wedok ketok udele
dikandhani kok malah ngece
jarene nambahi PD
kok ra isin karo bapake
….

Sekitar jam 5 sore sampai ke terminal Probolinggo. Nah begitu nyampe terminal, bayangan yang ada di kepala adalah istirahat sebentar, sholat dan langsung berangkat ke Cemorolawang biar ga kemalaman dan mudah nyari penginapan. Tetapi kenyataannya, berangkat ke Cemorolawang malah habis maghrib karena harus menunggu penumpang penuh. Dalam penungguan itu, datang pula rombongan lain yang akan menuju ke Bromo selain penduduk Cemorolawang itu sendiri. Mereka adalah dua pemuda ( 1 dari jkt dan 1 dari sby), kemudian 4 anak muda (1 pemuda dan 3 pemudi, yang 1 agak sakit kayaknya) dari bdg, kemudian 2 orang pemudi dari sby, dan seorang bapak2 dari jkt yang rehat dari kerjanya di smg. Perjalanan ke Cemorolawang tidak memakan banyak waktu, kurang lebih sekitar 1,5 jam. Ternyata harus mengeluarkan kocek sebesar 25 rb per orang untuk sampai ke Cemorolawang.
Di Cemorolawang, ternyata sebagian dari rombongan sudah punya tempat untuk menginap sehingga tersisa 6 orang yang sepakat untuk bergabung saja, yaitu rombonganku (aku, adikku dan tanteku), 2 pemudi dari sby yang bernama vivi dan ika, seorang bapak2 yang dipanggil pak rully. Karena waktu itu ramai pengunjung (long weekend) maka untuk segera mendapatkan tempat istirahat agak susah. Setelah lihat ke beberapa tempat dan juga dikerubuti calo akhirnya dapat juga tempat istirahat dengan harga 350 rb untuk 2 kamar. Kemudian untuk sewa kendaraan juga perlu diselesaikan sekalian karena saat itu adalah peak season, ada ketakutan tidak dapat kendaraan hardtop. Akhirnya dapat sebuah hardtop dengan biaya sebesar 75 rb per orang. Kapasitas penumpang sendiri adalah 6 orang selain sopir. Dari pengelola di kawasan itu sebenarnya sudah dipatok 276 rb dengan rute G. Penanjakan dan G. Bromo, dan 160 rb untuk pergi ke G. Bromo saja. Aktualnya biaya itu bisa lebih untuk biaya sopirnya.
Selesai dengan persiapan untuk perjalanan besok, kami sepakat untuk makan dulu setelah meletakkan perlengkapan di kamar walaupun sudah jam 9 malam dan kelihatan banyak rumah sudah tutup. Tapi di antara rumah-rumah itu ada warung-warung yang buka 24 jam katanya. Perjalanan melangkahkan kaki dari kamar penginapan ke warung walaupun pendek tapi sangat mengesankan. Kegelapan yang menyelimuti diimbangi dengan taburan kelap-kelip di atas kepala. Berbagai macam rasi bintang terpampang di depan mata. Tentu saja pemandangan semacam ini tidak akan bisa ditemui di Surabaya. Sayang, kamera yang kubawa tidak mampu untuk menangkap keindahan itu.
Sekitar pukul 3.30 kami siap berangkat ke G. Penanjakan untuk melihat matahari terbit. Bayangan awal, kami akan diantar ke kaki gunung kemudian jalan kaki ke puncak tapi ternyata hardtop itu membawa kami langsung ke puncaknya yang memang sudah dibangun jalan aspal. Rute ke G. Penanjakan sama dengan rute ke G. Bromo akan tetapi lebih jauh ke Barat. Titik persimpangannya ada di bawah kaki G. Batok. Perjalanan menuju puncak G. Penanjakan berkelok-kelok mengingatkan jalan yang ada di antara Trawas-Batu. Perjalanan kali itu pun tidak sampai ke puncak karena ramainya pengunjung bahkan tampak jajaran hardtop parkir mengular di sepanjang jalan ke puncak sehingga kami berhenti di sebuah bukit yang agak tinggi sehingga nantinya masih bisa melihat matahari terbit. Sampai di bukit itu langit masih gelap tapi warna merah sudah mulai membayang di ufuk timur. Kami menyempatkan untuk subuhan dulu di sisi yang agak sepi lalu terus naik ke puncak bukit. Sambil menunggu munculnya sang kuning kemilau kami sempat foto-foto dan menyapa pengunjung lainnya. Ketika mendekati waktu terbit matahari ternyata awan kelabu membayang sehingga tidak tampak bola merah itu. Yang kelihatan hanyalah cahaya merahnya menyaput sebagian awan layaknya jari-jari tangan yang menggapai pegangan. Sekitar pukul 6 pagi kami turun gunung dan meneruskan ke G. Bromo. Dalam perjalanan turun sempat kulihat beberapa rumpun tumbuhan Eidelweiss yang kebanyakan di tebing-tebing yang cukup tinggi. Sebelumnya hanya tahu bunga Eidelweiss dari penjual-penjual tapi ketika lihat langsung dalam keadaan masih segar, tertarik pula untuk memetik beberapa saja walaupun sudah tahu kalo dilindungi (nakale kumat).
Sampai di kaki G. Batok langit sudah terang, tetapi tetap saja hawanya masih dingin. Bahkan ketika kita berbicara, masih keluar uap dari mulut. Kalo sudah begini, secara insting jadi sering menghembuskan nafas lewat mulut
. Dari tempat pemberhentian hardtop itu perjalanan dilanjutkan ke Selatan, lokasinya G. Bromo. Kami sepakat untuk jalan kaki saja meskipun tawaran orang yang menyewakan kuda berkali-kali menghampiri. Kuda disewakan dengan harga 50 rb sekali jalan. Jadi untuk pergi dan kembali kena 100 rb. Ketika sampai di kaki G. Bromo perjalanan di hentikan untuk beristirahat di sebuah warung. Warung? iya, sebuah warung tenda yang pelayanannya mirip dengan warung gresikan yang ada di bilangan Keputih dan Gebang. Ada mie instan, mie seduh (pop mie dan sejenisnya) dan juga minuman hangat lainnya. Di sekitar tempat itu ada juga yang menjajakan kaos dengan tema Bromo. Selain itu ada juga pangkalan ojek yang katanya relatif baru-baru ini saja ada. Ojek ini mungkin melayani rute Bromo ke tepian segara wedi di Cemorolawang karena di sekitar jalan turun ke segara wedi itu tidak terlihat motor satupun.
Dari warung itu sampai ke anak tangga yang dipergunakan untuk naik ke puncak Bromo lebih baik membawa masker atau apapun untuk menutup hidung karena perjalanan akan disaingi dengan kuda. Jalur jalan yang sudah menyempit dan berpasir ketika dilewati kuda tentu akan menimbulkan debu yang beterbangan. Sesudah sampai di anak tangga, perjalanan selanjutnya akan mudah sekali hanya menapaki anak tangga itu sampai ke puncak. Tapi ini juga bisa menyulitkan ketika angin berhembus ke arah Utara dan membawa asap belerang dari kawah bromo yang akan dengan mudah mengganggu keseimbangan para pengunjung. Beruntung waktu itu angin masih berhembus ke arah Tenggara sehingga anak tangga yang berada di sisi Utara aman dari gangguan asap belerang. Sampai di puncak kita bisa menikmati kawah Bromo dari dekat. Jangan dibayangkan kalo kawah itu seperti di film-film ada lava panas yang kelihatan mata. Secara fisik kawah Bromo lapisan batuan pada yang ada retakan di tengah tempat keluarnya gas. Setelah istirahat sebentar, waktunya turun karena arah angin sudah mulai bergerak ke Utara. Dalam perjalanan kembali ke tempat hardtop diparkir ada seorang ibu-ibu yang menjajakan seikat bunga Eidelweiss, 10 ribu dapat 3 katanya. Kukira ini tawaran paling murah yang pernah kudengar. Sewaktu ke Bromo banyak juga wisman yang datang. Kalau dari bahasa yang diucapkan kemungkinan besar berbahasa Perancis. Kukira karena peristiwa bom di hotel Ritz Carlton itu akan mengurangi kunjungan wisman yang datang ke Indonesia, eh ternyata tidak.
Di pemberhentian hardtop disempatkan untuk istirahat dan sarapan pagi. Di sekitar tempat itu ada yang jual nasi ternyata. Dalam pada itu ditawari oleh sang sopir hardtop untuk pergi ke savana di sebelah Selatan kawah Bromo dan lokasi syuting film Pasir Berbisik dengan harga 100 rb. Setelah berunding sebentar dengan rombongan akhirnya disepakati untuk melanjutkan perjalanan ke sebelah Selatan kawah Bromo. Berbeda dengan sebelah Utara yang terbentang pasir, sebelah Selatan ini banyak ditumbuhi rumput-rumput liar sehingga pemandangannya ga kalah dengan yang ada di wallpaper-wallpaper itu. Apalagi kalau musim hujan, katanya akan terhampar karpet hijau alami sejauh mata memandang. Selain itu udara di lokasi itu begitu menyegarkan. Jadi ga hanya mata saja jadi segar tapi rongga dada pun demikian. Di area ini ada juga tumbuhan yang beracun. Tuumbuhan ini paling gampang dikenali pas musim kemarau karena hanya tumbuhan itu yang berwarna hijau segar sedangkan yang lainnya berwarna kekuningan. Setelah puas di lokasi itu perjalanan kembali dilewatkan ke lokasi Pasir Berbisik. Dari savana itu bila diteruskan akan sampai ke danau Ranu Pane yang menjadi titik awal pendakian ke puncak Semeru, selain itu juga bisa diteruskan ke daerah Tumpang yang masuk Kab. Malang. Ada satu yang menarik ketika dalam perjalanan ke savana itu ada sepasang orang yang bisa dibilang tua yang berjalan kaki. Ternyata mereka sedang menempuh perjalanan pulang dari lokasi wisata Bromo itu ke kampung yang ada di seberang bukit setelah danau Ranu Pane itu. “Gila, koyok AdBM ae nang endi-endi mlaku. sangar koen!” dalam benakku. Di Pasir Berbisik, yang tampak di mata adalah padang pasir tetapi dengan pasir warna hitam. Ketika menjejakkan kaki, terasa dingin padahal matahari sudah sepenggalah sehingga langsung saja ku lepas sandalku dan cekeran berlari-larian turun bukit pasir. Begitu sampe di bawah bukit pasir itu, ternyata ada warna kuning di balik pasir hitam itu. “Agaknya banyak asap belerang yang turun sampai ke sini” pikirku. Tapi selain itu suhu pasir itu berbeda dengan yang ada di puncak bukit. Ketika tersadar bahwa pasir yang kuinjak itu panas, langsung berlari ku kembali ke atas. Pasir di bagian atas ini lebih dingin daripada di bawah. Sepertinya angin yang berhembus agak kencang di bagian atas itu yang menyebabkan suhu pasir di situ lebih dingin.
Sehabis dari Pasir Berbisik, kami pun kembali ke penginapan untuk bersih diri dan bersiap pulang. Air di Cemorolawang memang sedingin es, sudah siang pun masih dingin. Bahkan ketika mandipun uap air pun timbul karena suhu air yang dingin bertemu dengan suhu badan yang hangat. Saranku, kalo ga kuat dingin mending mandi setelah turun ke Probolinggo. Setelah bertukar kontak dengan vivi, ika, dan pak rully, aku, adikku, dan tantekupun kembali pulang ke Surabaya karena kedua gadis itu masih ingin menikmati suasana di tempat itu barang sehari dan pak rully sudah balik duluan karena mengejar pesawat kemballi ke Semarang. Akhirnya lengkap sudah lokasi wisata di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, kecuali G. Semeru itu sendiri tentunya
Jadi pingin banget ke gunung bromo euy…
*besok kalo kesana gak ajak2 lagi awas! ^_^v
Oleh: Rifa on Agustus 2, 2009
at 12:48 pm
memangnya mau pulang ke jawa, hanya untuk naik bromo?
Oleh: dewapur on Agustus 3, 2009
at 4:09 am