Tulisan ini sebelumnya di posting di milis pembaca at alasroban (20102008), hampir lupa di posting di sini
Seminggu lalu terpuaskan rasanya hasrat naik gunung yang sudah beberapa waktu lalu tidak tersalurkan. Di Batam ga ada yang namanya gunung, adanya cuma pantai tok. Sebelumnya ketika pas ambil cuti panjang, begitu sampe di Surabaya malah jatuh sakit, ya batal. Makanya begitu sudah kembali ke Surabaya langsung direncanakan untuk naik gunung. Dengan pertimbangan sudah lama ga naik gunung, kupilih Panderman yang ada di Batu, Jatim yang puncaknya bisa dicapai dalam waktu antara 3-4 jam dari kampung di kaki gunung. Ini sih rata-rata. Untuk kesana, naik bis yang ke arah Jombang dari terminal Landungsari di Malang. Biasanya Puspa Indah dengan ongkos Rp 3000 (11102008). Kemudian turun di daerah Srebet, Batu. Sekarang, begitu turun disambut dengan gapura (waktu pertama kali dulu masih belum ada) yang bertuliskan “Wanawisata Panderman” kalo ga salah baca hehe. Setelah itu baru dimulai “naik-naik ke puncak gunungnya”. Gini lho ceritanya …
1724 Turun di Srebet, lalu dimulai “hiking-nya”.
1730 Isho ga pake makan
di musholla yang dilewati.
1754 Lanjut jalannya menuju sumber air yang kuanggap sebagai pos pertama.
Ternyata langsung ngos-ngosan. Irama jalannya masih belum sesuai benar untuk jalan menanjak. Setelah beberapa kali mencoba mengatur irama nafas agar sesuai dengan langkah kaki, baru bisa dirasakan jalannya enak. Yah seperti naik motor, untuk menanjak ya pake gigi rendah jangan pake gigi tinggi. Waktu jalan menanjak waktu itu diatur supaya nafas mengikuti irama langkah kaki dan jangan sebaliknya. Ini menurut badanku sih, mungkin beda dengan pengalaman orang lain.
1850 Eh ternyata ada posnya! Pos ini terletak di sekitar daerah sumber air. Ngobrol sebentar sama yang njaga terus jalan lagi.
Dulu waktu pertama kali ke Panderman, masih belum ada yang namanya pos. Sekarang (11102008) ditarik Rp 2000 untuk naik tapi kalo di pos itu ada yang menjaga hehe. Ada kawan dari Singosari, Malang yang ga ditarik soalnya dia berangkat di siang hari saat yang menjaga pos ga ditempat.
1857 Mulai jalan dari pos perijinan.
Ah…syukur. Tuhan Maha Tahu dan Dia membantu. Langit malam begitu cerah, padahal sore itu rintik hujan mulai berjatuhan mengantarkanku ke terminal Landungsari. Sinar bulan dan bintang menjadi penunjuk jalan. Karena berjalan sendirian dan ga ada yang ditanya, ya hanya bertanya pada jejak-jejak sepatu di jalan setapak, ranting tanaman perdu yang patah, dan ilalang yang terinjak-injak (bukan pada rumput yang bergoyang lho) dengan bantuan senter. Ternyata rute yang kuambil tidak melalui “latar ombo” yang biasanya juga dipake camping tetapi langsung menuju ke “watu gajah”. Awalnya nyante tapi pas mendekati lokasi hampir seperti memanjat naik. Lokasi ini bisa juga dipake untuk tempat beristirahat soalnya ada bekas orang bikin api di beberapa tempat di area itu. Di “watu gajah” ini kuputuskan untuk istirahat sebentar menjawab komplain dari perutku yang minta diisi dan membuat api kecil2an mengusir dingin. Setelah habis roti dua potong dan sepotong coklat, ada suara orang yang mendekati “watu gajah”. Ternyata kawan2 dari Singosari, Malang. Setelah mereka beristirahat sebentar, mereka melanjutkan naik dan kuputuskan untuk gabung dengan mereka.
2153 Akhirnya sampai juga ke puncak.
Di tempat ini sudah menunggu, 2 orang teman sekampung dari kawan2 Singosari. Mereka sudah di Puncak sejak sehari sebelumnya. Malam di Puncak Panderman dilalui bersama mereka sambil bikin api unggun yang cukup menghangatkan. Puncak dingin dirasakan ketika waktu menunjukkan pukul 2 dini hari, Uadeeemm Puolll. Kedua tangan dimasukkan ketiak dan tidur uyel-uyelan dalam tenda yang sempit cukup membantu mengurangi rasa dingin yang menyerang. Ada hal menarik yang dilakukan salah seorang kawan ini, dia membungkus kakinya dengan tas kresek. Setelah kuikuti, jadi hangat rasanya kaki ini.
0459 Siap menyambut sunrise.
Langit sudah menunjukkan warna biru. dan ada semburat kuning dan merah di ufuk timur. Juga nampak awan menghiasi horizon di timur, “wah sunrise terhalangi awan kayaknya”. Kuambil kamera dan mengambil beberapa gambar yang kurasa cukup indah. “Serasa di negeri awan”, sambil ceprat-cepret mengambil gambar dan ngobrol dengan kawan2 pendaki lainnya yang juga ada di puncak. Setelah itu makan pagi dan berkemas-kemas untuk turun. Dalam Al-Qur’an, Surga sering digambarkan dengan menyebutkan ada sungai yang mengalir dibawahnya, apakah nantinya juga seperti negeri di awan? (hanya curious dan ga perlu jawaban hehehe, males mikirin yang gituan)
0650 (kurang lebih) Turun gunung.
Dalam perjalanan turun, lebih banyak “nyeker” dari pada pake sandal karena lebih menjejak ke tanah dan mudah untuk manuver. Ini lebih dikarenakan perjalanan itu ditempuh dengan berlarian turun. Bahkan mendahului kelompok lain yang mendahului turun dari puncak.
0730 Sampai di sumber air dekat pos pendaftaran.
Di tempat ini bersih2 diri seadanya dilakukan, biar tampak fresh waktu masuk ke kampung. Setelah itu sudah masuk ke perkampungan dan menuju ke simpang Srebet untuk naik angkutan pulang ke tempat masing2. Di simpang Srebet itu kami berpisah. “Here I am, a lone hiker” hehehe… Kalo naik lagi sebaiknya bawa teman, Dek!
* sayang foto2nya gak sengaja terformat … hiks… yang tersisa yang ada di FS…
kok ga pernah di update lagi cak, en ga pernah keliatan nongol OL
Oleh: sigit on Mei 7, 2009
at 3:44 am
bos, sayang banget gak ada fhotonya…
udah 4 tahun nih pensiun dari ndaki gunung…
Oleh: fetro on Mei 27, 2009
at 8:36 am