Oleh: dewapur | April 7, 2009

Perang Kemerdekaan

Beberapa hari lalu kurasakan kembali masa-masa itu layaknya sebuah musim yang kembali tiap tahunnya, “seorang kawan” yang senantiasa mengunjungiku setahun sekali atau dua kali. Sebuah masa dimana kondisi raga sangatlah lemah dan fungsi-fungsi tubuh pun tidak berjalan semestinya. Ibarat sebuah kerajaan, seperti telah diserbu pasukan kerajaan asing yang ingin meluaskan kekuasaan lewat kedudukan koloni-koloninya. Seperti koloni negara Api di kerajaan Bumi (Serial Avatar). Demi menghadapi serbuan pasukan asing itu proporsi aspek-aspek kehidupan perlu disesuaikan supaya laju pergerakan pernyerbu (heeh gak pas ya…) atau penjajah bisa dibendung. Misalnya semua sumber daya yang ada digunakan prioritas untuk bertahan dari serbuan penjajah dan aspek-aspek kehidupan yang lain hanya dijalankan seminimal mungkin sebagai syarat ada untuk keberlangsungan pertahanan. Aspek ekonomi lebih dititik-beratkan pada suplai logistik untuk barisan pertahanan dan sisanya untuk barisan pendukung supaya bisa berkesinambungan. Sumber daya material lebih difokuskan untuk pembentukan laskar-laskar militer untuk menahan dan menghalau pasukan penjajah. Selain itu aktifitas masyarakat hanya seperlunya saja, sangat efektif bukan? Hal ini juga ditunjang oleh kebijaksanaan pemerintah pusat untuk meminta bantuan mercenary (tentara bayaran) yang datang tiga kali dalam sehari.

Pada pertempuran-pertempuran di hari-hari berikutnya, pasukan penjajah mulai terdesak ke sebuah lokasi dan terpusat. Hal ini menjadikan mereka lebih kuat. Apabila keadaan sudah menjadi seperti ini diperlukan kekuatan yang lebih lagi untuk bisa mengusir tuntas penjajah itu. Hal ini tentunya tidak dibiarkan oleh penjajah bukan? Sehingga ada kemungkinan invasi gelombang kedua akan datang. Oleh karena itu diperlukan penasihat kemiliteran setingkat Zhu Ge Liang (Sam Kok, Red Cliff) serta Jenderal-Jenderal seperti Kuan Yu dan Zhang Fei dari cerita yang sama pula. Dengan adanya bantuan-bantuan ini konsenstrasi musuh bisa ditumpas habis. Dalam hitungan jari beberapa hari ke depan insyaAllah musuh sudah terusir dari tanah air ini. Seiring dengan terdesaknya penjajah, tentu aktivitas masyarakat jadi lebih hidup dan kapasitas pendukung keberlangsungan hidup di segala sisi merangkak naik. Dengan peningkatan kapasitas ini, kekuatan pertahanan jadi lebih kuat. Selain itu posisi bangsa di antara bangsa lainnya juga naik karena aktivitas komunikasi bilateral dan multilateral dengan bangsa lainnya juga meningkat.

Bagi kebanyakan orang, sakit adalah sebuah hal yang merugikan. Kalo sudah gini jadi teringat ada nasihat yang bilang bahwa sakit itu ada 3 perkara (cmiiw), yaitu sakit sebagai peringatan, sakit sebagai penawar dosa, sakit sebagai pengganti musibah yang lebih besar. Sakit dan sehat layaknya siang dan malam, baik dan jahat, benar dan salah adalah satu hal yaitu karunia atau pemberian. Atau dalam bahasa sistem bisa dikatakan sebagai sinyal input. Oleh karena itu adalah pemberian maka perlu disyukuri bukan? Selain itu dipandang secara sistem sebuah input tentu memberikan sebuah output dan atau perubahan sistem itu yang disebut hasil. Nah karena input yang diproses itu memberikan hasil maka hasilnya juga patut disyukuri juga ya? Di alam semesta ini, menurut sunatullah, hasil sebuah sistem itu ada yang cuma satu ada yang berjumlah banyak. Nah lagi, jumlah hasil yang bertambah juga perlu disyukuri. Sehingga apapun itu, walaupun sakit, adalah sebuah karunia yang juga patut disyukuri. Andaikan tidak sakit belum tentu bisa nulis seperti di atas. Selain itu ada beberapa hal lain yang juga perlu disyukuri sebagai efek samping lainnya (kayak obat saja) :D


Beri tanggapan

Your response:

Kategori