Tahun baru bagi setiap orang memiliki makna yang berbeda. Sehingga cara melewatinya juga berbeda bagi tiap orang. Ada yang melaluinya dengan bekerja, ada yang menghabiskannya bersama keluarga. Ada yang melewatkannya dengan hepi-hepi, ada juga dengan kontemplasi. Berikut hanyalah catatan perjalananku selama tanggal 1 januari kemarin.
Perjalanan kemarin pas tahun baru termasuk kategori yang mana ya? Naik motor ke arah Malang tapi lewat Tanggulangin terus dilanjutkan dengan rute Batu-Jombang melewati Pujon. Wiiiihh, rute terakhir itu yang menyenangkan. Jalur Surabaya-Malang yang biasanya sangat macet terutama di daerah pasar Porong dalam kondisi normal diperparah dengan adanya danau lumpur. Untuk itu kucoba melewati Tanggulangin sebagai jalur alternatif. Rute yang dilalui ternyata jalan pedesaan tapi sudah beraspal. Walaupun begitu yang bikin adem menyusuri jalan itu di terik matahari adalah geografis di kanan-kiri jalan yang berupa sawah menghijau. “lumayan adem”, pikirku. Ketika melewati jalur ini, dua kali kutemui pemandangan yang kurasa pantas untuk diabadikan. Ternyata jalan ini tembus ke jalan tol Gempol yang tidak lagi dipakai karena lumpur.

Perjalanan dilanjutkan ke Batu sembari singgah di beberapa tempat untuk istirahat. “Wah kok padat ya jalannya?”. Ternyata baru kuingat, kalau hari itu adalah awal dari long weekend bagi yang cuti besoknya dan disekitar jalur yang akan kulalui ada beberapa tempat wisata yang cukup menarik, mulai dari Taman Safari Prigen sampai waduk Selorejo. Sengaja untuk tidak mampir di tempat-tempat wisata itu, karena targetku hanya jalan sambil memfoto pemandangan. Mulai memasuki kawasan Pujon, inginku berhenti di tengah jalan terus mengambil foto dari tebing batu penyangga jalur itu tetapi iringan kendaraan di belakang memaksaku untuk terus melaju. “Yaah eman”, yang terlintas dalam benakPadahal ada beberapa scene yang menarik hati untuk diabadikan namun karena keterbatasan baterai kamera, hanya beberapa saja yang bisa diabadikan.



Begitu mulai turun ke daerah Ngantang, rintik hujan dan hawa dingin mulai menyapa, “Uuadhem polll!”. Hujan menemani perjalanan hingga memasuki kabupaten Kediri. Kemudian dari Kediri masuk ke Jombang melalui Diwek (agak lupa nama daerahnya). Di sini agak terkejut ternyata jalan yang kuambil ini melewati depan ponpes Tebuireng, dimana di depan gerbangnya tertulis tempat dimakamkannya pahlawan nasional KH Hasyim Asyari dan KH Wachid Hasyim. Kemudian hujan disertai kilat dan guntur menyapa kembali ketika mendekati stasiun Jombang dan kulewatkan semalam di tempat Simbah sambil membaca buku-buku koleksi karya SH Mintardja . Baru keesokan harinya pulang ke Surabaya dengan menyusuri tepian sungai Brantas dan sesekali tampak siluet kebiruan pegunungan di sekitar Malang. “Ah andaikan kamera yang kubawa lebih baik lagi”.