Sistem Kontrol, dua kata ini tentunya sangat tidak awam bagi mereka mahasiswa teknik fisika. Aku sendiri baru sadar mengenal ketika baru menjadi mahasiswa di tf dulu. Sistem kontrol merupakan sebuah sistem yang mengendalikan sebuah proses untuk mencapai tujuan sistem itu. Sistem kan punya tujuan yang hendak dicapainya baik itu dilakukan secara otomatis (sistem itu sendiri yang pegang kendali aksi) atau secara manual (manusia sebagai pemegang kendali aksi). Penggunaan sistem ini di kehidupan sehari-hari sangatlah bervariasi, mulai dari rumah tangga sampai industri.
Pada kehidupan rumah tangga, banyak contoh sistem kendali otomatis yang bisa diambil, misalnya penggunaan setrika otomatis, mesin cuci otomatis, kran bak mandi otomatis (yang pake pelampung), penggunaan sekering untuk membatasi arus listrik yang masuk ke rumah, dan lain-lain. Di dunia industri tentu orang lebih mengerti, misalnya di pabrik-pabrik perakitan, pabrik pengolahan, dan lain sebagainya. Pada dunia usaha juga ada sistem kontrol, tetapi beda istilah saja, seperti TQM (total quality management), quality control, istilah PDCA (Plan Do Check Action), dan lain-lain. Sedangkan sistem yang manual bisa kita lihat secara sederhana pada aksi buka-tutup keran air oleh seorang manusia.
Pada dasarnya sistem kontrol otomatis itu terdiri dari sub-sistem seperti pengendali, aktuator, feedback. Secara umum bisa digambarkan dengan diagram blok di bawah. Perbedaan dengan sistem manual adalah tidak adanya elemen feedback.
Diagram Blok Sistem Kontrol
Set point adalah nilai dari variabel proses yang ingin dicapai oleh sistem. Pengendali berperan sebagai “otak” dari sistem, yang melakukan koreksi atas aksi sistem apabila masih ada error. Sedangkan aktuator merupakan tangan dari pengendali yang melakukan semua aksi yang telah ditentukan oleh pengendali. Variabel proses merupakan sesuatu yang dikendalikan oleh sistem dan dapat diukur. Pengukuran variabel proses ini dilakukan oleh blok feedback yang akan memberikan hasil pengukuran untuk dibandingkan dengan set point dan memberikan nilai error. Error ini akan dipergunakan sebagai acuan perhitungan oleh pengendali untuk menentukan aksi.
Saat ini sudah bermunculan metode pengendalian, mulai dari pengendali PID sampai ke metode pengendalian yang canggih, seperti pengendalian berbasis model, jaringan syaraf tiruan, logika fuzzy, genetis algoritma dan lain-lain.

kenapa gak dibuat sih rangkaian nya kan biar lebih jelas… oia prinsip kerjanya dibuat donk… soalnya aku juga bingung nih pilih judul untuk TA aku nanti so aku harap buatnya lebih mendetail y….!!!
Oleh: lisa on November 20, 2008
at 12:36 pm
yang dibuat itu rangkaiannya apa?
trus prinsip kerja apa yang dimaksud?
oh, sudah mau buat TA ya? memangnya mau fokus dimana?
Oleh: dewapur on November 21, 2008
at 8:29 am
KIra kira ada gak ya pengendali otomatis buat kontrol sistem suspensi sepeda motor di pasaran?
Oleh: rijal on Desember 17, 2008
at 11:44 am